Sejarah Onde Onde

Onde-onde memiliki sejarah panjang yang berakar dari kuliner Tiongkok
kuno, dikenal dengan nama jian dui. Hidangan ini sudah ada sejak masa Dinasti
Tang (abad ke-7–10 M), dan biasanya disajikan dalam perayaan besar sebagai
simbol keberuntungan. Jian dui kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui
jalur perdagangan dan migrasi masyarakat Tionghoa.

Di Indonesia, onde-onde mulai populer sejak masa kerajaan dan
perdagangan di pesisir Jawa, terutama di daerah yang memiliki komunitas
Tionghoa besar seperti Mojokerto, Semarang, dan Surabaya. Mojokerto bahkan
dikenal sebagai “kota onde-onde” karena jajanan ini menjadi ikon kuliner daerah
tersebut. Onde-onde kemudian beradaptasi dengan bahan lokal Nusantara,
menggunakan gula kelapa, kacang hijau, dan tepung ketan, sehingga berbeda dari
versi Tiongkok yang lebih sering menggunakan pasta biji teratai.

Dalam budaya Jawa dan Tionghoa di Indonesia, onde-onde memiliki
makna simbolis. Bentuk bulatnya melambangkan kesempurnaan dan
kebersamaan, sementara biji wijen yang bertebaran di permukaan dianggap
sebagai simbol rezeki yang berlimpah. Karena itu, onde-onde sering disajikan
dalam acara pernikahan, Imlek, atau syukuran keluarga.

Memasuki era modern, onde-onde tidak hanya dijual di pasar tradisional,
tetapi juga hadir di toko kue, restoran, dan pusat kuliner dengan berbagai inovasi
rasa. Variasi modern mencakup isi cokelat, keju, durian, hingga ubi ungu,
menjadikannya jajanan yang terus relevan dengan selera generasi baru. Di luar
negeri, onde-onde juga dikenal di Malaysia dan Singapura sebagai bagian dari
warisan kuliner Peranakan.

Kini, onde-onde bukan sekadar jajanan pasar, melainkan juga warisan
kuliner lintas budaya yang mencerminkan akulturasi Tionghoa dan Nusantara.
Dari Dinasti Tang hingga kota Mojokerto, dari pasar tradisional hingga café
modern, onde-onde tetap bertahan sebagai simbol manisnya tradisi dan
keberuntungan.

 

Share this Page!

© DFLAMMA

No Code Website Builder